Mempersiapkan Upacara
Salah satu bentuk tatacara minum teh di Jepang yaitu
chaji yang merupakan sebuah upacara sajian teh (
tea ceremony) yang lengkap dengan makanan. Hampir sama seperti upacara minum teh lainnya, tuan rumah mesti menghabiskan berhari-hari bahkan merinci yang tidak begitu penting hanya untuk meyakinkan upacara tersebut bakal berlangsung dengan sempurna. Melalui teh, kalau bisa kekhasan disuguhkan kepada setiap orang pada setiap upacara yang dilaksanakan. Oleh karena itu setiap aspek dari teh yang disajikan harus dapat dinikmati oleh setiap tamu.
Upacara dilakukan di ruangan yang didesain sedemikian rupa dengan nuansa teh. Desain itu sendiri dinamakan chashitsu. Biasanya ruangan itu berada dalam sebuah rumah teh, yang berlokasi terpisah dengan kediaman utama, di dalam taman. Tamu-tamu (tidak lebih dari 4 orang) berada di machiai (ruang tunggu). Di ruangan ini seorang hanto (seorang asisten tuan rumah) menyajikan sayu (air panas yang akan digunakan untuk menyeduh teh). Sementara berada di ruangan tersebut, tamu-tamu akan memilih seseorang di antara mereka sebagai wakil yang bertindak selaku tamu utama. Hanto kemudian mengajak para tamu, sedangkan tamu utama berada di belakang, menuju ke arah kolam kecil di taman yang tak berbunga. Tempat ini disebut roji (tanah embun). Di sini para tamu akan membersihkan "debu dunia", kemudian mereka duduk di bangku (koshikake machiai), menunggu si tuan rumah (teishu)untuk secara resmi menyambut mereka.
Baskom batu (nagare tsukibai)
Sesaat sebelum menerima para tamu, teishu mengisi tsukubai (baskom batu) dengan air segar. Dengan menggunakan penciduk, teishu "menyucikan" tangan dan mulutnya dengan air yang ada di tsukubai tadi dan selanjutnya berjalan ke arah chumon (gerbang tengah) untuk menerima secara resmi para tamu tadi dengan membungkuk memberikan tanda hormat. Tiada kata-kata yang terucap, dan kemudian tsukubai mengajak hanto, tamu utama dan lainnya (sesuai urutan) melewati chumon yang melambangkan pintu antara dunia nyata dengan dunia "teh" yang bersifat spiritual.
Para tamu dan hanto menyucikan diri mereka di tsukubai dan kemudian masuk ke dalam rumah teh. Pintu geser yang merupakan pintu masuk ke dalam rumah teh yang setinggi 36 inchi (sekitar 91 cm) sehingga setiap orang yang masuk mesti membungkukkan badan dan merundukkan kepalanya. Pintu ini melambangkan bahwa semuanya sama kedudukannya saat minum teh, tidak tergantung dari status sosial yang disandang. Yang terakhir masuk kemudian akan memasang palang pintu.
Di dalam rumah teh
Ruangan perjamuan tidak memiliki dekorasi apapun, melainkan hanya sebuah ruang kecil yang disebut tokonoma. Terdapat sebuah kakemono (lukisan dinding) di dalam ruangan tersebut yang dipilih oleh tuan rumah secara seksama, yang mewakili tema upacara saat itu. Selanjutnya sebuah kitab kuno yang disebut bokuseki (jejak tinta) dibuka gulungannya. Setiap tamu bergiliran menghormati kitab tersebut dan mengamati kama (teko) dan perapian (terdiri dari 2 jenis yaitu furo (tipe portable) dan ro (tipe terpasang di lantai yang juga sebagai penghangat pada musim dingin). Selanjutnya para tamu akan duduk sesuai posisi mereka saat upacara tersebut.
Tuan rumah duduk di tempatnya dan memberikan salam secara bergantian, pertama antara tuan rumah dan tamu utama, selanjutnya penghormatan antara tuan rumah dengan tamu lainnya. Jika pada saat musim ro, perapian yang terbuat dari arang segera dinyalakan setelah penghormatan, jika furo maka perapian akan dinyalakan setelah jamuan makan. Pada saat musim ro, semacam dupa/kemenyan akan dimasukkan ke perapian, sedang saat musim furo kayu cendana yang akan ditambahkan ke perapian.
Perjamuan Makan
Setiap tamu dilayani suguhan makanan yang disebut chakaiseki. Makanan tersebut dihidangkan dengan sumpit yang terbuat dari kayu cedar, dengan tiga rangkaian hidangan. Pada baki hidangan terdapat nasi di dalam mangkuk keramik, sup miso yang disajikan dalam mangkuk, terdapat potongan daging ikan mentah, serta acar sayur di dalam piring keramik.
Selanjutnya sake dihidangkan. Pembuka rangkaian perjamuan disebut hashiarai (membilas sumpit). Nimono (makanan yang didihkan di dalam kaldu) diletakkan di piring terpisah, sedangkan makanan yang dipanggang (yaki) dihidangkan di piring keramik sesuai porsi tamu. Tuan rumah juga akan menawarkan nasi dan sup penambah kepada setiap tamu. Saat rangkaian perjamuan pertama ini, tuan rumah boleh ikut menikmati sajian, jika dia mau. Setelah rangkaian pertama ini selesai, para tamu akan disuguhkan kosuimono, semacam kaldu untuk menghilangkan citarasa sajian di dalam mulut, sehingga tidak tercampur rasa dengan rangkaian sajian berikutnya.
Rangkaian sajian selanjutnya adalah hassun, berasal dari makna penghormatan kepada alam sesuai budaya Shinto. Dinamakan hassun juga karena sebuah nampan kayu sederhana yang digunakan dalam sajian ini. Rangkaian ini terdiri dari uminomono (seafood) dan yamanomono (makanan yang bersumber dari pegunungan) yang menandakan kelimpahan makanan yang diberikan laut dan daratan. Saat rangkaian ini, tuan rumah ikut makan, dan disuguhkan sake oleh tamunya. Tamu yang menyuguhkan sesuai dengan posisi tertinggi dan sebagai tanda rasa kebersamaan, setiap tamu melakukan hal sama, walau hanya sebentar.
Sebagai penutup rangkaian sajian kedua ini, konomono disajikan dalam mangkuk kecil yang terbuat dari keramik, dan nasi panggang disajikan dengan air garam di dalam sebuah kendi kecil, melambangkan nasi terakhir. Setiap tamu membersihkan perkakas makan yang telah mereka pakai dengan kertas tipis yang mereka bawa. Sebuah omogashi (sejenis manisan) diberikan sebagai penutup perjamuan. Selanjutnya tuan rumah akan mengajak para tamu untuk istirahat sejenak di taman atau ruangan lain, sementara sang tuan rumah mempersiapkan teh untuk perjamuan selanjutnya. Setelah para tamu meninggalkan ruangan, tuan rumah membersihkan ruangan tersebut dan menambahkan bunga serta mempersiapkan perkakas untuk upacara minum teh. Lebih dari 13 jenis barang yang digunakan, dan berharga cukup mahal serta dianggap sebagai barang yang memiliki kualitas seni yang tinggi. (to be continued...)