Nilai Spiritual Budaya Minum Teh
Pada upacara minum teh (
tea ceremony), air mewakili
yin dan api mewakili
yang. Air ditampung dengan sebuah guci yang disebut
mizusashi. Guci yang terbuat dari batu tersebut berisi air tawar yang melambangkan kemurnian atau kesucian, dan hanya boleh disentuh oleh tuan rumah.
Matcha, teh yang akan disajikan, disimpan dalam sebuah tempat berupa keramik kecil yang disebut
chaire yang terbungkus dengan sebuah
shifuku (kantong sutra) yang diletakkan di depan
mizusashi.
Jika teh disajikan saat siang hari, maka sebuah gong akan dibunyikan, sedangkan jika dilangsungkan pada malam hari, maka lonceng yang akan dibunyikan. Biasanya gong atau lonceng tersebut dipukul 5-7 kali, yang berguna untuk memanggil para tamu yang sedang rehat sejenak tadi kembali ke ruangan di rumah teh. Penyucian tangan dan mulut dilakukan kembali seperti saat awal memasuki rumah teh. Para tamu akan mengamati bunga-bunga yang dipasang, ceret dan perapian serta dudukan mereka, mangkuk teh (chawan) dan tempat air (mizusashi). Tuan rumah masuk ke ruangan dengan membawa chawan yang di dalammya terdapat chasen (pengaduk teh yang mirip kuas pendek/kecil), chakin (kain linen berwarna putih) yang digunakan untuk mengeringkan mangkuk dan chasaku (sendok teh yang terbuat dari bambu tipis), yang digunakan untuk membagikan matcha. Semua peralatan tersebut diatur sedemikian rupa di sisi guci air, yang mewakili matahari (melambangkan yang), dan mangkuk yang mewakili bulan (melambangkan yin). Setelah meninggalkan ruang persiapan upacara, tuan rumah kembali dengan membawa kensui (mangkuk untuk air sisa), hishaku (penciduk air terbuat dari bambu) dan futaoki (bambu hijau penutup ceret).
Dengan menggunakan fukusa (kain sutra yang sangat halus), yang mewakili jiwa sang tuan rumah, tuan rumah menyucikan tempat teh dan sendok teh. Keseksamaan yang begitu mendalam terlihat bagaimana sang tuan rumah memeriksa, melipat dan menggunakan fukusa, yang memerlukan konsentrasi dan ketenangan yang luar biasa. Selanjutnya air panas diciduk ke dalam mangkuk teh, pengaduk teh dibilas, mangkuk teh dikosongkan dan diusap dengan menggunakan chakin.
Tuan rumah mengangkat tempat dan sendok teh dan membagikan tiga sendok teh ke dalam masing-masing mangkuk teh yang telah disiapkan untuk para tamu. Air panas diciduk dari ceret dan dimasukkan ke dalam mangkuk teh dengan jumlah secukupnya. Air tambahan dimasukkan sehingga seduhan dapat diaduk menjadi cairan kental seperti sup. Air yang tidak terpakai dikembalikan ke dalam ceret.
Tuan rumah memberikan mangkuk teh tersebut kepada tamu utama yang menerimanya dengan membungkuk sebagai tanda hormat. Mangkuk tersebut diangkat sedikit ke atas dan kemudian diputar-putar dengan tangan. Tamu tersebut selanjutnya meminum teh yang diberikan itu, mengusap bibir mangkuk dan memberikan ke tamu selanjutnya yang akan melakukan hal yang sama seperti tamu utama. Setelah semua tamu menikmati teh dalam mangkuk tersebut, mangkuk dikembalikan kepada tuan rumah dan selanjutnya dibilas. Pengaduk dibilas dan sendok serta tempat teh dibersihkan. Setelah itu para tamu berdiskusi sesuai bahan pembicaraan mereka.
Persiapan Penutupan Upacara Minum Teh
Api di dalam perapian dibesarkan untuk membuat usa cha (teh encer). Teh ini akan digunakan untuk menghilangkan citarasa yang tertinggal di mulut dan sebagai simbol persiapan para tamu untuk meninggalkan "dunia spiritual" teh dan kembali memasuki dunia nyata. Peralatan merokok ditawarkan, namun jarang ada yang akan merokok di ruang penyajian teh tersebut. Hal tersebut tidak lain hanyalah sebagai relaksasi.
Zabuton (bantal kecil) dan teaburi (penghangat tangan) diberikan kepada para tamu. Higashi (manisan kering) juga disajikan sebagai pelengkap. Sebagai penutup, para tamu memberikan penghargaan terhadap teh yang disajikan dan penghormatan terhadap tuan rumah atas pelayanannya. Selanjutnya tuan rumah mengantarkan para tamunya pulang hingga ke depan pintu rumah teh. (www.holymtn.com)